blockchain adalah

Blockchain Adalah: Cara Kerja, Struktur dan Komponen

Blockchain telah menjadi buzzword yang populer dalam beberapa tahun terakhir. Teknologi ini menghadirkan peluang besar dan mengubah berbagai sektor dengan cara yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Artikel ini kita akan membahas secara rinci tentang apa itu blockchain, bagaimana cara kerjanya, keunggulannya, struktur dan komponennya. Yuk simak!

Apa itu Blockchain?

apa itu blockchain

Blockchain adalah teknologi yang mendasari cryptocurrency seperti Bitcoin. Namun, lebih dari sekadar mata uang digital, blockchain adalah sebuah sistem yang mengamankan dan mencatat transaksi secara terdesentralisasi. Secara sederhana, blockchain dapat dianggap sebagai buku besar digital yang terus diperbarui dan dipelihara oleh jaringan komputer yang terhubung.

Sejarah Blockchain

Konsep teknologi ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 2008 oleh seseorang yang menggunakan nama samaran “Satoshi Nakamoto.” Pada tahun 2009, Nakamoto mengimplementasikan teknologi blockchain dengan meluncurkan Bitcoin sebagai mata uang digital pertama yang beroperasi dengan menggunakan blockchain. Sejak itu, berbagai platform lainnya telah muncul dan penggunaan blockchain semakin meluas di berbagai industri.

Struktur dan Komponen Blockchain

Teknologi ini terdiri dari beberapa komponen penting, yaitu:

1. Blok

Blok adalah unit dasar, setiap blok berisi data transaksi yang dicatat dalam bentuk hash, yang merupakan representasi unik dari data tersebut. Selain data transaksi, blok juga berisi hash dari blok sebelumnya, sehingga membentuk rantai yang tidak dapat diubah.

2. Hash

Hash adalah representasi numerik unik dari data transaksi dalam bentuk serangkaian angka dan huruf. Hash diciptakan melalui fungsi hash yang kompleks. Setiap perubahan kecil pada data transaksi akan menghasilkan hash yang berbeda.

Baca juga :   Pharming Adalah: Pengertian, Cara Kerja dan Cara Mengatasi

3. Node

Node adalah entitas dalam jaringan yang berpartisipasi dalam proses verifikasi dan validasi transaksi. Setiap node memiliki salinan lengkap dari blockchain dan berkontribusi dalam membangun konsensus.

4. Jaringan Peer-to-Peer

Menggunakan jaringan peer-to-peer, di mana setiap node berkomunikasi langsung satu sama lain tanpa ada pihak tengah. Ini memungkinkan transaksi dapat diverifikasi dan dicatat secara bersama-sama oleh seluruh jaringan.

Proses Verifikasi dan Validasi Transaksi

Cara kerja teknologi ini melibatkan proses verifikasi dan validasi transaksi yang dilakukan oleh para node dalam jaringan. Proses ini memastikan integritas dan keabsahan transaksi. Berikut adalah langkah-langkah umum dalam proses tersebut:

a. Verifikasi

Ketika sebuah transaksi diajukan, para node dalam jaringan akan memverifikasi keabsahan transaksi tersebut. Mereka akan memeriksa apakah transaksi memiliki format yang benar dan jika dana yang digunakan sudah tersedia.

b. Validasi

Setelah transaksi diverifikasi, para node akan memvalidasi transaksi tersebut dengan mencocokkan informasi dalam blok dengan blok sebelumnya. Mereka akan memastikan bahwa transaksi tersebut sesuai dengan aturan protokol yang digunakan.

c. Pembentukan Blok

Setelah transaksi divalidasi, blok baru akan dibentuk. Blok ini akan mencakuptransaksi yang telah diverifikasi dan hash blok sebelumnya. Setelah blok baru selesai dibentuk, blok tersebut akan ditambahkan ke dalam rantai blockchain.

d. Konsensus

Proses konsensus adalah langkah penting dalam teknologi ini. Para node dalam jaringan harus mencapai kesepakatan tentang kebenaran transaksi dan urutan blok dalam blockchain. Beberapa protokol konsensus yang umum digunakan adalah Proof of Work (PoW) dan Proof of Stake (PoS).

Cara Kerja Blockchain

cara kerja blockchain

Berikut adalah langkah-langkah yang terjadi dalam cara kerja teknologi ini:

1. Transaksi

Proses dimulai ketika transaksi baru dibuat oleh pengguna. Transaksi ini mencakup informasi seperti pengirim, penerima, jumlah yang ditransfer dan data terkait lainnya.

2. Verifikasi dan Validasi

Setelah transaksi dibuat, node-node dalam jaringan memverifikasi dan memvalidasi keaslian transaksi tersebut. Verifikasi dilakukan dengan memastikan bahwa pengirim memiliki dana yang cukup untuk transaksi tersebut dan tidak ada upaya penipuan.

3. Pembentukan Blok

Setelah transaksi diverifikasi, blok baru dibentuk. Blok ini berisi sejumlah transaksi yang terverifikasi. Selain itu, blok juga berisi hash dari blok sebelumnya dalam rantai.

Baca juga :   Apa Perbedaan Website Statis dan Dinamis? 

4. Penambangan

Proses penambangan adalah proses di mana penambang (miner) mencoba untuk menyelesaikan tugas matematika yang rumit. Tugas ini memerlukan kekuatan komputasi yang tinggi. Penambang yang berhasil menyelesaikan tugas tersebut memiliki hak untuk menambahkan blok baru ke rantai.

5. Konfirmasi dan Penyebaran

Setelah blok baru ditambahkan ke rantai, node-node dalam jaringan memverifikasi dan menerima blok tersebut. Setelah dikonfirmasi, blok tersebut didistribusikan ke semua node dalam jaringan. Ini memastikan bahwa semua node memiliki salinan terbaru dari blockchain.

6. Keamanan dan Ketahanan

Keamanan dari teknologi ini didasarkan pada prinsip kriptografi yang kuat dan desentralisasi. Karena setiap blok merujuk ke hash blok sebelumnya, mengubah data dalam blok akan merusak keterkaitan dan merubah hash blok tersebut. Jika ada upaya manipulasi, node-node dalam jaringan akan mendeteksinya dan blok yang dimanipulasi akan ditolak.

7. Konsensus

Konsensus adalah proses di mana node-node dalam jaringan mencapai kesepakatan tentang versi yang benar dari teknologi ini. Sebagian besar jaringan dari teknologi ini menggunakan algoritma konsensus seperti Proof of Work (PoW) atau Proof of Stake (PoS) untuk memastikan bahwa semua node dalam jaringan setuju dengan urutan dan validitas transaksi.

Keunggulan Blockchain

  1. Keamanan Tingkat Tinggi: Menggunakan teknologi kriptografi yang kuat, sehingga informasi yang disimpan di dalamnya sulit untuk diretas atau dimodifikasi tanpa otorisasi.
  2. Desentralisasi: Tidak ada otoritas tunggal yang mengendalikan blockchain. Data terdistribusi di seluruh jaringan, sehingga tidak ada satu pihak pun yang dapat mengendalikan atau memanipulasi data dengan seenaknya.
  3. Transparansi: Semua transaksi bersifat terbuka dan dapat dilihat oleh siapa pun. Ini membantu meningkatkan kepercayaan antara pihak yang terlibat.
  4. Efisiensi dan Kecepatan: Dapat mempercepat proses transaksi, mengurangi biaya dankesalahan manusia. Sistem otomatis dalam blockchain menghilangkan kebutuhan akan perantara dan proses manual yang lambat.

Regulasi Blockchain di Indonesia

Indonesia mulai mengakui potensi blockchain dan mata uang kripto sebagai alat transaksi yang sah. Pada tahun 2021, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan regulasi yang mengatur platform perdagangan aset kripto. Namun, regulasi lebih lanjut diperlukan untuk memberikan panduan yang jelas dalam penerapan blockchain di berbagai sektor.

Baca juga :   Binary Search Adalah: Pengertian, Cara Kerja dan Implementasi

Perbedaan Utama antara Blockchain dan Cryptocurrency

Berikut adalah perbedaan utama antara blockchain dan cryptocurrency:

1. Definisi

  • Blockchain: Teknologi buku besar digital terdesentralisasi yang mencatat transaksi dengan menggunakan kriptografi.
  • Cryptocurrency: Bentuk uang digital yang menggunakan teknologi kriptografi untuk mengamankan transaksi.

2. Fungsi

  • Blockchain: Digunakan sebagai infrastruktur yang mendasari berbagai aplikasi, termasuk cryptocurrency. Ini mencakup mencatat dan memverifikasi transaksi, menyimpan data secara terdesentralisasi dan memastikan keamanan dan transparansi.
  • Cryptocurrency: Digunakan sebagai alat pertukaran digital yang memungkinkan transaksi tanpa perantara. Ini berfungsi sebagai bentuk alternatif dari mata uang tradisional dan dapat digunakan untuk pembelian, investasi dan transfer nilai.

3. Keterkaitan

  • Blockchain: Digunakan untuk mencatat dan mengamankan transaksi cryptocurrency.
  • Cryptocurrency: Cryptocurrency bergantung pada teknologi blockchain untuk memfasilitasi dan mencatat transaksi, serta mengamankan dan memverifikasi kepemilikan aset digital.

4. Keberlanjutan

  • Blockchain: Dapat digunakan untuk berbagai aplikasi dan industri selain cryptocurrency. Misalnya, diterapkan dalam logistik, kesehatan, keuangan dan banyak lagi.
  • Cryptocurrency: Cryptocurrency terus berfungsi sebagai alat pertukaran digital dan terus berkembang dalam ekosistem kripto dengan tujuan untuk menjadi mata uang alternatif yang lebih luas diakui dan diterima.

5. Sifat Nilai

  • Blockchain: Tidak memiliki nilai intrinsik. Nilai terletak pada aplikasi yang menggunakan blockchain, seperti cryptocurrency atau aplikasi lainnya.
  • Cryptocurrency: Cryptocurrency memiliki nilai intrinsik yang berasal dari permintaan dan penerimaan pasar. Nilai cryptocurrency dapat berfluktuasi secara signifikan tergantung pada faktor-faktor pasar dan adopsi.

6. Penggunaan

  • Blockchain: Dapat digunakan oleh berbagai pihak, termasuk individu, perusahaan dan lembaga pemerintah, untuk mencatat transaksi, mengelola data dan mengoptimalkan proses bisnis.
  • Cryptocurrency: Cryptocurrency digunakan oleh individu sebagai bentuk uang digital, baik untuk transaksi sehari-hari maupun sebagai instrumen investasi. Selain itu, cryptocurrency juga digunakan dalam perdagangan dan pertukaran di pasar kripto.

7. Keamanan

  • Blockchain: Menggunakan kriptografi yang kuat untuk mengamankan data transaksi dan memastikan integritas blok. Keamanan blockchain terletak pada sistem konsensus dan enkripsi yang digunakan.
  • Cryptocurrency: Cryptocurrency menggunakan teknologi kriptografi untuk mengamankan transaksi dan melindungi kepemilikan aset digital. Keamanan cryptocurrency tergantung pada enkripsi dan praktik keamanan individu yang digunakan oleh pengguna.

Kesimpulan

Blockchain adalah teknologi revolusioner yang telah mengubah cara kita memandang sistem keuangan, logistik, kesehatan, pemerintahan dan banyak lagi. Dengan keamanan tingkat tinggi, desentralisasi dan transparansi, blockchain menawarkan potensi besar untuk meningkatkan efisiensi dan kepercayaan dalam berbagai proses. Namun, tantangan seperti skalabilitas dan regulasi perlu diatasi untuk memastikan adopsi yang lebih luas di masa depan.

Artikel ini merupakan bagian seri artikel Programming dari KantinIT.com dan jika ada ide topik yang mau kami bahas silahkan komen di bawah ya..