Apa Itu Transaction Per Second (TPS) di Sistem Digital

Apa Itu Transaction Per Second (TPS)

Di balik aplikasi yang terasa cepat, responsif, dan “nggak pernah down”, selalu ada angka-angka teknis yang bekerja diam-diam. Salah satu angka yang paling sering dibicarakan oleh engineer, arsitek sistem, hingga peneliti adalah Transaction Per Second atau disingkat TPS. Metrik ini sering muncul saat membahas performa database, API, sistem pembayaran, hingga blockchain.

Buat programmer, mahasiswa IT, maupun peneliti, memahami TPS bukan sekadar tahu definisinya saja. TPS adalah kunci untuk membaca kemampuan sebuah sistem yang seberapa kuat dia menahan beban, seberapa jauh dia bisa diskalakan, dan seberapa siap dia menghadapi lonjakan trafik yang tidak terduga.

Apa Itu Transaction Per Second (TPS)?

Transaction Per Second (TPS) adalah metrik yang menunjukkan jumlah transaksi yang dapat diproses oleh sebuah sistem dalam satu detik. Transaksi di sini tidak selalu berarti pembayaran uang. Dalam konteks sistem digital, transaksi bisa berupa operasi database (insert, update, delete), request API, eksekusi smart contract, hingga proses autentikasi pengguna.

Secara sederhana, TPS menjawab pertanyaan: “Dalam satu detik, sistem ini sanggup mengerjakan berapa banyak pekerjaan?” Semakin besar nilai TPS, semakin banyak transaksi yang bisa ditangani secara bersamaan. Namun, angka ini tidak bisa dilihat secara mentah tanpa konteks. TPS tinggi pada sistem yang sering error atau tidak konsisten justru bisa menjadi indikator masalah.

Dalam praktiknya, TPS sering digunakan sebagai tolak ukur performa dan skalabilitas. Sistem dengan TPS rendah akan mudah mengalami bottleneck saat trafik meningkat. Sebaliknya, sistem dengan TPS tinggi cenderung lebih stabil ketika dihadapkan pada beban berat, misalnya saat flash sale, peluncuran produk, atau lonjakan pengguna secara tiba-tiba.

Penting juga dipahami bahwa TPS bukan angka statis. Nilainya bisa berubah tergantung konfigurasi sistem, jenis transaksi, arsitektur aplikasi, serta kondisi lingkungan seperti jaringan dan hardware. Karena itu, TPS selalu dibahas bersama metrik lain agar gambaran performa sistem menjadi lebih utuh.

Mengapa TPS Sangat Penting dalam Sistem Digital

TPS berperan sebagai indikator awal kesehatan sebuah sistem. Dengan mengetahui TPS maksimal dan TPS aktual, engineer bisa memperkirakan kapan sistem mulai mendekati batas kemampuannya. Ini sangat penting untuk perencanaan kapasitas (capacity planning).

Dari sudut pandang pengguna, TPS berhubungan langsung dengan pengalaman penggunaan. Sistem dengan TPS rendah cenderung lambat, sering timeout, atau bahkan gagal memproses permintaan. Hal ini bisa berdampak serius, terutama pada sistem kritis seperti e-commerce, fintech, atau layanan publik digital.

Bagi tim pengembang, TPS membantu dalam pengambilan keputusan teknis. Misalnya, apakah perlu melakukan scaling horizontal, mengganti database, atau mengoptimalkan query. Tanpa metrik TPS, keputusan tersebut hanya berdasarkan asumsi, bukan data.

Di ranah akademik dan riset, TPS sering digunakan sebagai variabel pembanding antar sistem atau algoritma. Penelitian tentang performa sistem terdistribusi, blockchain, atau database hampir selalu menyertakan TPS sebagai parameter evaluasi utama.

Cara Kerja Transaction Per Second (TPS)

TPS bekerja dengan menghitung jumlah transaksi yang berhasil diproses dalam rentang waktu satu detik. Transaksi ini harus memenuhi kriteria “selesai” sesuai definisi sistem. Misalnya, pada database, transaksi dianggap selesai ketika data berhasil ditulis dan dikomit.

Secara konseptual, alurnya dimulai dari permintaan (request) yang masuk ke sistem. Permintaan ini kemudian diproses oleh aplikasi, diteruskan ke database atau layanan lain, lalu menghasilkan respons. Setiap siklus lengkap inilah yang dihitung sebagai satu transaksi.

TPS sangat dipengaruhi oleh bagaimana sistem menangani proses paralel. Sistem yang mampu memproses banyak transaksi secara bersamaan (concurrent processing) biasanya memiliki TPS lebih tinggi. Di sinilah peran thread, asynchronous processing, dan queue menjadi sangat penting.

Namun, TPS tidak selalu linier. Ketika beban meningkat melewati kapasitas optimal, TPS justru bisa turun drastis karena resource contention, lock database, atau latency jaringan. Oleh karena itu, pengujian TPS biasanya dilakukan dengan berbagai skenario beban untuk mendapatkan gambaran yang realistis.

Rumus Perhitungan Transaction Per Second (TPS)

Rumus dasar TPS sebenarnya sangat sederhana:

TPS=JumlahTransaksi/Waktu(detik)TPS = Jumlah Transaksi / Waktu (detik)

Jika sebuah sistem memproses 10.000 transaksi dalam 100 detik, maka TPS-nya adalah 100. Rumus ini terlihat mudah, tetapi implementasinya di dunia nyata tidak sesederhana itu.

Hal pertama yang perlu diperjelas adalah definisi “transaksi”. Apakah setiap request HTTP dihitung sebagai transaksi? Atau hanya transaksi yang berhasil? Kesalahan mendefinisikan transaksi bisa menghasilkan angka TPS yang menyesatkan.

Selain itu, waktu pengukuran juga sangat berpengaruh. Mengukur TPS selama 1–2 detik saja sering kali tidak representatif. Praktik yang lebih baik adalah mengukur dalam rentang waktu yang cukup panjang dan stabil.

Kesalahan umum lainnya adalah mengabaikan error rate. Sistem bisa saja mencatat TPS tinggi, tetapi sebagian besar transaksi gagal. Dalam kasus ini, TPS tinggi justru menutupi masalah performa yang serius.

Faktor yang Mempengaruhi Nilai TPS

Nilai TPS (Transactions Per Second) dipengaruhi oleh berbagai faktor teknis yang saling berkaitan, mulai dari infrastruktur hingga kualitas implementasi sistem.

1. Hardware

Performa hardware menjadi fondasi utama TPS.

  • CPU dengan jumlah core banyak dan clock speed tinggi memungkinkan pemrosesan transaksi secara paralel.
  • RAM yang memadai mengurangi ketergantungan pada disk yang lebih lambat, sehingga throughput meningkat.

2. Arsitektur Sistem

Desain arsitektur sangat menentukan batas maksimal TPS.

  • Sistem monolitik cenderung lebih cepat mencapai limit TPS karena skalabilitas terbatas.
  • Microservices memungkinkan scaling horizontal, tetapi membawa overhead komunikasi antar layanan yang dapat menurunkan efisiensi jika tidak dioptimasi.

3. Jaringan dan Latensi

Pada sistem terdistribusi, jaringan menjadi faktor krusial.

  • Latensi jaringan yang tinggi dapat memperlambat alur transaksi.
  • Sedikit delay pada komunikasi antar service sudah cukup untuk menurunkan TPS secara signifikan.

4. Kualitas Kode dan Database

Implementasi software sering menjadi bottleneck utama.

  • Query database yang tidak efisien, indexing buruk, atau locking berlebihan dapat membatasi TPS.
  • Kode yang tidak dioptimasi juga meningkatkan waktu proses setiap transaksi.

Perbedaan TPS, Throughput, dan Latency

Tabel Perbandingan TPS, Throughput, dan Latency

Aspek PerbandinganTPS (Transactions Per Second)ThroughputLatency
PengertianJumlah transaksi yang dapat diproses sistem dalam satu detikVolume total data atau pekerjaan yang diproses sistem dalam periode tertentuWaktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu transaksi
Fokus UtamaKecepatan sistem dalam memproses transaksiKapasitas pemrosesan sistem secara keseluruhanResponsivitas sistem terhadap satu permintaan
Satuan UmumTransaksi/detik (TPS)Data/detik (MB/s, request/s, job/s)Milidetik (ms) atau detik
Sudut PandangKuantitas transaksiVolume dan kapasitas pemrosesanWaktu tunggu pengguna
Dampak ke Pengalaman PenggunaTidak selalu terasa langsungTidak selalu dirasakan langsungSangat terasa oleh pengguna
Hubungan dengan Metrik LainBisa tinggi meski latency burukDipengaruhi oleh TPS dan ukuran dataBisa tinggi meski TPS besar
Contoh KasusSistem memproses 1.000 transaksi per detikSistem memproses 500 MB data per menitTransaksi selesai dalam 120 ms

TPS, throughput, dan latency adalah metrik performa yang saling melengkapi. Sistem dengan TPS tinggi belum tentu memiliki pengalaman pengguna yang baik jika latency-nya buruk. Oleh karena itu, evaluasi performa sistem sebaiknya tidak hanya berfokus pada satu metrik, tetapi melihat kombinasi TPS, throughput, latency, dan stabilitas sistem secara menyeluruh.

Kelebihan Menggunakan TPS

  1. Mudah dipahami dan diukur
    TPS direpresentasikan dalam satu angka sederhana sehingga mudah dipahami oleh tim teknis maupun non-teknis. Dengan metrik ini, kemampuan dasar sistem dapat dinilai tanpa analisis performa yang kompleks.
  2. Relevan untuk sistem dengan beban transaksi tinggi
    TPS sangat cocok digunakan pada sistem seperti e-commerce, fintech, dan aplikasi pembayaran. Metrik ini membantu menilai apakah sistem mampu menangani lonjakan transaksi secara bersamaan saat traffic tinggi.
  3. Efektif untuk benchmarking performa
    Selama definisi transaksi dan skenario pengujian konsisten, TPS dapat digunakan untuk membandingkan performa antar sistem, versi aplikasi, maupun konfigurasi infrastruktur yang berbeda.

Kekurangan TPS

  1. Tidak mencerminkan kualitas sistem secara menyeluruh
    Nilai TPS yang tinggi tidak selalu berarti sistem stabil atau efisien. Sistem bisa memproses banyak transaksi tetapi memiliki latency tinggi, error rate besar, atau konsumsi resource berlebihan.
  2. Rentan dimanipulasi dalam pengujian
    TPS dapat terlihat tinggi jika definisi transaksi dibuat terlalu sederhana atau error diabaikan. Hal ini sering terjadi pada klaim performa yang bersifat marketing, bukan evaluasi teknis yang objektif.
  3. Perlu dikombinasikan dengan metrik lain
    TPS sebaiknya dianalisis bersama metrik lain seperti response time, throughput, error rate, serta penggunaan CPU dan RAM agar memberikan gambaran performa sistem yang lebih akurat.

Kesimpulan

Pada pembahasan kita di atas dapat kita simpulkan bahwa Transaction Per Second (TPS) adalah metrik fundamental dalam dunia sistem digital yang berfungsi untuk mengukur kemampuan sebuah sistem dalam memproses transaksi. Dari database, API, hingga blockchain, TPS membantu engineer, peneliti, dan developer memahami batas serta potensi sistem yang mereka bangun atau teliti.

Namun, TPS bukanlah angka ajaib yang bisa berdiri sendiri. Interpretasi TPS harus selalu disertai pemahaman konteks, arsitektur sistem, serta metrik performa lainnya seperti latency dan throughput. Dengan pendekatan ini, TPS bisa menjadi alat yang sangat powerful untuk analisis, optimasi, dan pengambilan keputusan teknis.

Artikel ini merupakan bagian seri artikel Programming dari KantinIT.com dan jika ada ide topik yang mau kami bahas silahkan komen di bawah ya..

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Subscribe to our Newsletter

Subscribe to our email newsletter to get the latest posts delivered right to your email.
Pure inspiration, zero spam ✨