Agglomerative Hierarchical Clustering: Cara Kerja dan Kelebihan

agglomerative hierarchical clustering

Agglomerative Hierarchical Clustering adalah metode clustering dalam machine learning dan data mining yang digunakan untuk mengelompokkan data berdasarkan tingkat kemiripannya. Metode ini bekerja secara bertahap dengan menggabungkan cluster-cluster kecil menjadi cluster yang lebih besar hingga terbentuk struktur hierarki yang dapat divisualisasikan menggunakan dendrogram.

Karena mampu menunjukkan hubungan antar kelompok data secara detail, Agglomerative Hierarchical Clustering banyak digunakan dalam analisis pelanggan, bioinformatika, segmentasi pasar, hingga pengelompokan dokumen. Pada artikel ini, kita akan membahas pengertian, cara kerja, metode linkage, kelebihan, kekurangan, dan contoh penerapan Agglomerative Hierarchical Clustering.

Apa Itu Agglomerative Hierarchical Clustering?

Agglomerative Hierarchical Clustering adalah algoritma clustering yang termasuk ke dalam kategori unsupervised learning dan hierarchical clustering. Metode ini bekerja dengan pendekatan bottom-up, yaitu memulai proses dengan menganggap setiap data sebagai satu cluster terpisah, kemudian secara bertahap menggabungkan cluster yang memiliki tingkat kemiripan tertinggi hingga seluruh data berada dalam satu hierarki cluster.

Hasil dari proses clustering ini biasanya divisualisasikan dalam bentuk dendrogram, yaitu diagram berbentuk pohon yang menunjukkan hubungan dan tingkat kedekatan antar cluster. Karena mampu menggambarkan struktur data secara hierarkis, metode ini banyak digunakan dalam data mining, machine learning, bioinformatika, serta segmentasi pelanggan.

Baca Juga: Clustering: Pengertian, Jenis dan Contoh penerapannya 

Langkah-langkah dalam Agglomerative Hierarchical Clustering

Berikut adalah langkah-langkah yang umum dilakukan dalam metode ini:

1. Mengumpulkan Data yang Diperlukan

Langkah pertama adalah mengumpulkan data yang akan digunakan dalam proses clustering. Data tersebut harus relevan dengan tujuan analisis yang ingin dicapai.

2. Mencari Jarak Antar Data

Selanjutnya, kita perlu menghitung jarak antara setiap pasangan data dalam himpunan data yang telah dikumpulkan. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung jarak, seperti Euclidean distance atau Manhattan distance.

3. Membentuk Kluster Awal

Setelah mendapatkan matriks jarak antara data, langkah berikutnya adalah membentuk kluster awal. Pada awalnya, setiap data dianggap sebagai kluster tunggal.

4. Menggabungkan Kluster

Langkah selanjutnya adalah menggabungkan kluster berdasarkan jarak antara kluster tersebut. Terdapat beberapa metode penggabungan yang umum digunakan, seperti single linkage, complete linkage atau average linkage.

5. Melakukan Evaluasi dan Validasi Kluster

Setelah proses penggabungan dilakukan, perlu dilakukan evaluasi dan validasi terhadap kluster yang terbentuk. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa kluster yang dihasilkan sesuai dengan tujuan analisis yang ingin dicapai.

6. Menentukan Jumlah Kluster yang Optimal

Salah satu tantangan dalam Agglomerative Hierarchical Clustering adalah menentukan jumlah kluster yang optimal. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan, seperti dendrogram atau elbow method, untuk membantu menentukan jumlah kluster yang tepat.

Baca Juga: Hierarchical Clustering Adalah: Jenis dan Cara Kerja

Pengukuran Jarak dalam Agglomerative Hierarchical Clustering

Dalam Agglomerative Hierarchical Clustering, pengukuran jarak antara kelompok-kelompok memainkan peran penting dalam menentukan kelompok mana yang harus digabungkan. Beberapa pengukuran jarak umum yang digunakan dalam clustering adalah:

  • Euclidean distance: Ini adalah metrik jarak yang paling umum digunakan dan mengukur jarak geometris antara dua titik dalam ruang.
  • Manhattan distance: Metrik jarak ini mengukur jarak antara dua titik dalam ruang dengan menjumlahkan perbedaan absolut antara koordinat titik-titik tersebut.
  • Cosine similarity: Metrik jarak ini mengukur kemiripan antara dua vektor dengan menghitung kosinus sudut antara vektor-vektor tersebut.

Kriteria Penggabungan dalam Agglomerative Hierarchical Clustering

Selain pengukuran jarak, kriteria penggabungan juga penting dalam metode ini. Beberapa kriteria penggabungan umum yang digunakan adalah:

  • Single linkage: Mengukur jarak terdekat antara dua kelompok dengan menggunakan jarak minimum antara semua pasangan titik dalam kedua kelompok.
  • Complete linkage: Mengukur jarak terjauh antara dua kelompok dengan menggunakan jarak maksimum antara semua pasangan titik dalam kedua kelompok.
  • Average linkage: Mengukur rata-rata jarak antara semua pasangan titik dalam kedua kelompok.

Baca Juga: Euclidean Distance: Cara Kerja, Rumus dan Contoh Perhitungan

Kelebihan dan Kekurangan Agglomerative Hierarchical Clustering

Metode ini memiliki sejumlah kelebihan dan kekurangan yang perlu dipertimbangkan sebelum mengimplementasikannya. Beberapa kelebihannya adalah:

  • Metode ini dapat menghasilkan hierarki yang menggambarkan hubungan antara kelompok-kelompok.
  • Tidak perlu mengatur jumlah kelompok yang diinginkan sebelumnya.
  • Dapat digunakan dengan berbagai metrik jarak dan kriteria penggabungan.

Namun, metode ini juga memiliki beberapa kekurangan, antara lain:

  • Kompleksitas komputasional yang tinggi, terutama untuk data yang besar.
  • Sensitif terhadap outlier.
  • Interpretasi hierarki clustering dapat menjadi subjektif.

Contoh Penerapan Agglomerative Hierarchical Clustering

Metode ini dapat diterapkan dalam berbagai bidang. Berikut adalah beberapa contoh penerapannya:

  1. Contoh Penerapan dalam Analisis Pasar
    Dalam analisis pasar, dapat digunakan untuk mengelompokkan konsumen berdasarkan preferensi atau perilaku pembelian mereka. Hal ini dapat membantu dalam segmentasi pasar dan pengembangan strategi pemasaran yang lebih efektif.
  2. Contoh Penerapan dalam Pengelompokan DNA
    Dalam bioinformatika, dapat digunakan untuk mengelompokkan sekuen DNA berdasarkan kesamaan urutan nukleotida. Hal ini dapat membantu dalam studi evolusi atau identifikasi pola genetik yang berkaitan dengan penyakit.
  3. Contoh Penerapan dalam Analisis Tingkah Laku Konsumen
    Dalam analisis tingkah laku konsumen,  dapat digunakan untuk mengelompokkan konsumen berdasarkan preferensi, perilaku pembelian atau kebiasaan penggunaan produk. Hal ini dapat membantu dalam personalisasi pemasaran atau pengembangan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Baca Juga: Manhattan Distance: Konsep, Rumus, dan Contoh 

Kesimpulan

Pada pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Agglomerative Hierarchical Clustering adalah metode hierarchical clustering yang menggunakan pendekatan bottom-up untuk mengelompokkan data berdasarkan tingkat kemiripan. Algoritma ini bekerja dengan menggabungkan cluster secara bertahap hingga terbentuk struktur hierarki yang dapat divisualisasikan menggunakan dendrogram, sehingga memudahkan analisis hubungan antar kelompok data.

Karena tidak memerlukan label data maupun jumlah cluster di awal, Agglomerative Hierarchical Clustering banyak digunakan dalam data mining, machine learning, segmentasi pelanggan, bioinformatika, dan analisis perilaku konsumen. Meskipun memiliki kompleksitas komputasi yang relatif tinggi, metode ini tetap menjadi salah satu teknik clustering yang efektif untuk memahami struktur data secara mendalam.

Artikel ini merupakan bagian dari seri Kecerdasan Buatan KantinIT.com. Jika artikel ini bermanfaat, jangan lupa bagikan ke media sosial atau ke teman kamu.

Subscribe to our Newsletter

Subscribe to our email newsletter to get the latest posts delivered right to your email.
Pure inspiration, zero spam ✨