Apa Itu Broken Access Control? Dampak dan Cara Pencegahan

Broken Access Control

Keamanan aplikasi bukan lagi sekadar fitur tambahan di era digital seperti sekarang, keamanan menjadi fondasi utama yang menentukan apakah sebuah aplikasi layak dipercaya atau tidak. Banyak programmer fokus pada fitur baru, UI keren, atau performa cepat, tetapi melupakan satu hal penting bagaimana mekanisme akses antar user bekerja. Di sinilah masalah Broken Access Control sering bermula. Meski terlihat sepele, kesalahan kecil dalam pengaturan hak akses bisa memberikan jalan masuk bagi hacker untuk mencuri data, mengubah informasi, atau mengambil alih akun pengguna.

Masalahnya, celah Broken Access Control sering tidak terdeteksi secara langsung. Aplikasi tetap berjalan normal, user tetap bisa login, dan semua fitur terlihat baik-baik saja. Namun di balik layar, ada kemungkinan bahwa seorang pengguna bisa mengakses data milik pengguna lain hanya dengan memodifikasi parameter, mengganti ID sederhana pada URL, atau memanfaatkan endpoint API yang tidak terlindungi. Kondisi ini membuat Broken Access Control terus menjadi salah satu kelemahan paling berbahaya dalam OWASP Top 10. Pada artikel ini, kita akan membahas secara mendalam bagaimana celah ini muncul, jenis-jenisnya, contoh kasus nyata, serta cara mencegahnya agar aplikasi kamu aman dari serangan.

Apa Itu Broken Access Control?

Broken Access Control adalah kondisi ketika sistem gagal menerapkan pembatasan akses dengan benar, sehingga pengguna bisa melakukan tindakan atau mengakses data yang seharusnya tidak menjadi haknya. Dalam konsep keamanan aplikasi, setiap pengguna memiliki peran dan level otorisasi yang menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Misalnya, mahasiswa hanya boleh melihat nilai miliknya sendiri, bukan nilai mahasiswa lain. Admin boleh mengakses dashboard manajemen, sementara user biasa tidak boleh. Ketika aturan dasar semacam ini tidak diterapkan dengan benar, terjadilah Broken Access Control.

Yang membuat celah ini berbahaya adalah sifatnya yang sering “samar”. Hacker tidak perlu melakukan serangan rumit seperti SQL Injection atau Remote Code Execution. Terkadang, cukup dengan mengganti angka pada URL seperti /user/10 menjadi /user/11, lalu sistem langsung menampilkan data orang lain. Atau hacker dapat memanfaatkan endpoint API yang tidak memverifikasi apakah token user tersebut berhak melakukan aksi tertentu. Banyak kasus menunjukkan bahwa kesalahan kecil semacam ini terjadi karena developer terlalu fokus pada autentikasi, tetapi lupa memastikan bahwa otorisasi juga berjalan ketat.

Jenis–Jenis Broken Access Control

Berikut merupakan jenis-jenis Broken Access Control yang harus kamu ketahui:

1. Horizontal Access Control Issues

Jenis ini muncul ketika pengguna bisa mengakses data milik pengguna lain meskipun mereka memiliki level akses yang sama. Biasanya terjadi pada aplikasi yang hanya memvalidasi apakah pengguna sudah login, tetapi tidak memverifikasi apakah data yang diminta memang milik pengguna tersebut.

Kasus klasiknya adalah penggantian ID di URL untuk melihat data orang lain dan ini masih sangat banyak ditemukan di aplikasi kampus, e-commerce kecil, hingga sistem internal perusahaan. Masalah ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya serius seperti kebocoran data pribadi hingga manipulasi transaksi.

2. Vertical Access Control Issues

Vertical access control issues terjadi saat pengguna dengan hak akses rendah (misalnya user biasa) dapat menjalankan fitur yang seharusnya hanya dimiliki admin. Biasanya disebabkan developer hanya mengandalkan “penyembunyian tombol” di frontend tanpa memastikan pembatasan di backend.

Akibatnya, siapa pun yang sedikit paham API bisa mengakses endpoint admin menggunakan Postman atau cURL. Ini berbahaya karena memungkinkan pengambilalihan sistem, perubahan data penting, hingga eskalasi privilege yang tidak terdeteksi.

3. Bypass Access Control

Pada jenis ini, hacker berhasil melewati seluruh proses otorisasi karena celah logika atau konfigurasi yang salah. Contohnya: middleware otorisasi lupa dipasang pada satu endpoint, token tidak divalidasi dengan benar, atau endpoint internal ternyata dapat diakses publik.

Masalah seperti ini sering terjadi pada aplikasi yang tumbuh cepat dan banyak memiliki API microservices. Sekali ditemukan, celah ini memungkinkan hacker masuk tanpa hak akses atau bahkan tanpa login, membuatnya salah satu jenis Broken Access Control yang paling berbahaya.

4. Insecure Direct Object Reference (IDOR)

IDOR adalah bentuk Broken Access Control yang paling banyak ditemukan karena sangat mudah terjadi. Pada kasus IDOR, aplikasi memberikan akses langsung ke objek (seperti ID, file, invoice, atau username) tanpa verifikasi server-side.

Hacker cukup mengubah parameter seperti ?id=1002 menjadi ?id=1003. Bila sistem tidak memeriksa kepemilikan data, maka data lain langsung terbuka. Celah ini sering dimanfaatkan untuk melihat data pribadi, mengganti informasi akun orang lain, hingga mengunduh file rahasia perusahaan.

5. Force Browsing

Force browsing terjadi ketika hacker menebak atau memindai URL untuk mengakses halaman sensitif tanpa otorisasi. Contohnya: /admin, /config, /database, atau /backup.zip. Jika halaman tersebut tidak dilindungi, hacker bisa langsung masuk hanya dengan mengetik URL.

Tools otomatis seperti Dirbuster, Gobuster, atau Dirsearch membuat pencarian direktori sensitif menjadi sangat mudah. Banyak developer lupa mengunci folder tertentu atau menonaktifkan directory listing, sehingga file penting terekspos tanpa disadari.

Bagaimana Broken Access Control Bekerja?

  1. Sistem menerima request user dan hanya mengecek apakah user sudah login
    Pada banyak aplikasi, masalah dimulai dari sini. Sistem hanya memverifikasi autentikasi—apakah user valid—tetapi tidak memeriksa apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan user tersebut. Ini menjadi celah awal bagi hacker.
  2. Hacker mengamati pola URL, endpoint API, atau parameter request
    Serangan sering dimulai dari hal sederhana. Hacker melihat parameter seperti id=1001 lalu mencoba menggantinya menjadi ID lain. Jika sistem tidak memverifikasi kepemilikan data atau role user, data langsung keluar begitu saja.
  3. Percobaan akses ke endpoint tersembunyi (Force Browsing)
    Banyak aplikasi memiliki endpoint seperti /admin/reports, /logs, atau /config/backup yang tidak tampil di UI, tapi tetap aktif di backend.
    Jika endpoint tersebut tidak memiliki kontrol akses, hacker bisa membukanya langsung lewat browser atau tool debugging.
  4. Manipulasi request menggunakan tools seperti Postman atau Burp Suite
    Pada API modern, developer sering hanya mengecek token autentikasi tanpa mengecek role, permission, atau ownership data.
    Hacker tinggal memodifikasi body request atau header untuk mendapatkan akses yang seharusnya tidak diberikan.
  5. Eksploitasi logika aplikasi yang terlalu bergantung pada frontend
    Banyak aplikasi hanya melakukan cek role di JavaScript atau UI.
    Hacker cukup mengirim request langsung ke server tanpa melalui UI, dan semua batasan otomatis hilang.
  6. Backend gagal memverifikasi otorisasi secara menyeluruh
    Ini inti dari masalahnya. Backend tidak mengecek:
    • apakah user adalah pemilik data
    • apakah user memiliki role yang benar
    • apakah aksi yang diminta sesuai izin
      Setiap celah kecil di tahap ini menjadi “pintu besar” bagi hacker untuk mengakses data sensitif.

Penyebab Terjadinya Broken Access Control

Berikut adalah penyebab umum yang sering dijumpai:

1. Kontrol Akses Hanya Diterapkan di Frontend

Banyak developer, terutama yang masih pemula, hanya menyembunyikan tombol atau menu tertentu di UI tanpa melindungi endpoint di backend. Padahal frontend hanya lapisan visual bukan lapisan keamanan. Endpoint tetap bisa dipanggil secara langsung menggunakan Postman, cURL, atau browser. Akibatnya, fitur admin atau fitur sensitif bisa diakses siapa pun yang tahu URL-nya. Ini adalah penyebab Broken Access Control yang paling sering terjadi dan paling mudah dieksploitasi.

2. Tidak Ada Pemeriksaan Ownership Data (Root Cause IDOR)

IDOR hampir selalu terjadi karena sistem tidak memverifikasi apakah data yang diminta benar-benar dimiliki oleh user tersebut. Developer hanya mengambil data berdasarkan parameter ID tanpa memeriksa kepemilikan. Contoh mudahnya: /profile?id=2002 bisa diganti menjadi 2003, dan data orang lain tampil begitu saja. Celah ini sangat umum di aplikasi kampus, e-commerce, sampai layanan kesehatan. Tanpa pemeriksaan ownership, kontrol akses praktis tidak ada.

3. Salah Konfigurasi Middleware, Route, atau Akses Backend

Kesalahan konfigurasi kecil seperti lupa menambahkan middleware role, route admin yang tidak diproteksi, hingga endpoint internal yang tidak memerlukan autentikasi bisa membuka jalan bagi hacker. Pada aplikasi microservices, masalah ini lebih kompleks karena tiap service bisa memiliki aturan otorisasi berbeda. Jika satu service lupa diberi validasi, celah bisa terbuka secara global dan menginfeksi seluruh sistem.

4. Desain RBAC yang Tidak Konsisten atau Tidak Lengkap

RBAC sering dibuat terburu-buru atau tanpa standar yang jelas. Beberapa role mendapat izin terlalu banyak, sementara yang lain terlalu sedikit. Masalah makin parah jika logika otorisasi tersebar di banyak file dan tidak terpusat. Ketika aplikasi berkembang, developer bisa lupa menambahkan rule pada role tertentu sehingga fitur baru tidak terlindungi. Ketidakkonsistenan inilah yang membuat access escalation sangat mungkin terjadi.

5. Kurangnya Audit Keamanan dan Automation Testing

Banyak tim developer tidak melakukan audit kontrol akses secara rutin. Tidak ada pengecekan permission, tidak ada pengujian negative scenario, dan tidak ada automation testing untuk role yang berbeda. Ketika aplikasi bertambah besar, satu perubahan kecil bisa menyebabkan akses terbuka tanpa disengaja. Tanpa audit dan testing yang tepat, celah Broken Access Control tidak akan pernah terdeteksi sampai diserang.

6. Tekanan Deadline dan Budaya “Yang Penting Jalan Dulu”

Ini penyebab klasik yang terjadi pada banyak proyek IT. Karena dikejar deadline, developer sering memilih solusi cepat seperti menyembunyikan menu di frontend, menunda implementasi middleware, atau menyalin logika otorisasi seadanya. Ketika fitur sudah live, jarang ada waktu untuk memperbaiki pondasi keamanan. Kebiasaan “nanti diperbaiki belakangan” inilah yang membuat celah Broken Access Control tertanam sejak awal dan meledak di masa depan.

Dampak Broken Access Control pada Sistem

1. Kebocoran Data Pengguna

Broken Access Control dapat membuat user melihat data milik user lain hanya dengan memanipulasi URL atau parameter. Ini menghancurkan privasi dan dapat memicu pelanggaran regulasi seperti GDPR atau UU PDP. Pada aplikasi pendidikan, data nilai atau identitas mahasiswa dapat bocor; pada aplikasi kesehatan, data medis yang sangat sensitif bisa terekspos.

2. Perubahan Data Tanpa Izin (Unauthorized Modification)

Jika kontrol akses vertikal bermasalah, hacker dapat melakukan tindakan administratif yang seharusnya hanya boleh dilakukan role tertentu. Dampaknya bisa berupa perubahan harga produk, manipulasi saldo, edit nilai mahasiswa, hingga penghapusan data penting. Ini merusak integritas sistem dan menurunkan kepercayaan pengguna secara drastis.

3. Pengambilalihan Akun (Account Takeover)

Celah akses kontrol dapat memungkinkan hacker mengganti email, password, atau data autentikasi user lain. Akun yang sudah diambil alih sering digunakan untuk penipuan, penyalahgunaan transaksi, atau penyebaran malware. Serangan ini termasuk yang paling berbahaya karena memberi hacker akses penuh atas identitas digital korban.

4. Eksploitasi Sistem secara Massal oleh Bot atau Hacker

Endpoint yang tidak terlindungi bisa diserang secara otomatis oleh bot, melakukan ribuan request per detik untuk mencari celah. Jika satu celah ditemukan, eksploitasi dapat berskala besar, menyerang seluruh pengguna aplikasi tanpa disadari.

5. Kerusakan Reputasi dan Hilangnya Kepercayaan Pengguna

Kebocoran data atau manipulasi informasi membuat pengguna ragu untuk tetap menggunakan aplikasi. Reputasi perusahaan bisa hancur hanya dengan satu insiden, terutama jika melibatkan data sensitif atau menyebabkan kerugian langsung kepada pelanggan.

6. Kerugian Finansial dan Biaya Pemulihan yang Besar

Perbaikan sistem, audit keamanan, kompensasi korban, hingga kemungkinan denda regulasi dapat menimbulkan kerugian besar. Dalam banyak kasus, biaya pemulihan jauh lebih mahal dibanding pencegahan sejak awal.

Cara Mencegah Broken Access Control

Kamu bisa mengikuti tips berikut untuk melakukan pencegahan:

1. Gunakan Role-Based Access Control (RBAC) yang Benar

RBAC adalah fondasi utama untuk mencegah Broken Access Control. Bukan hanya membuat role seperti admin, user, atau editor tetapi memastikan setiap permintaan diverifikasi di backend, bukan cuma di UI. Banyak developer hanya menyembunyikan tombol admin di frontend, padahal hacker bisa tetap memanggil endpoint langsung via Postman.

RBAC yang benar memastikan setiap request diperiksa role-nya, sehingga aksi sensitif hanya bisa dijalankan oleh orang yang benar-benar berhak.
Ketika disusun dengan baik dan modular, RBAC memudahkan penambahan role baru, mempercepat audit, dan melindungi sistem dari hampir semua jenis privilege escalation.

2. Lakukan Validasi Akses di Server-Side

Apapun yang dilakukan user di frontend tidak boleh dipercaya. Semua aksi harus divalidasi ulang di server. Setiap endpoint—baik GET, POST, PUT, PATCH, maupun DELETE—harus memastikan user:

  • sudah login,
  • punya role yang benar,
  • dan memang pemilik data (ownership).
    Kebanyakan kasus IDOR muncul karena backend hanya menerima parameter ID tanpa memverifikasi siapa pemiliknya. Dengan server-side validation yang ketat, manipulasi request oleh hacker akan langsung ditolak. Inilah mekanisme paling efektif untuk mencegah akses ilegal ke data orang lain.

3. Terapkan Security Logging dan Audit

Logging adalah “alarm keamanan” aplikasi. Tanpa logging yang baik, kamu tidak akan tahu bahwa hacker sudah mencoba ribuan request untuk mencari celah. Log harus mencatat endpoint yang diakses, parameter yang dikirim, IP asal, hingga waktu akses. Dengan data ini, aktivitas mencurigakan bisa terdeteksi lebih cepat, dan tim bisa menutup celah sebelum terjadi kebocoran.

Audit berkala juga penting untuk memeriksa apakah role atau permission mengalami misconfiguration. Semakin sering aplikasi berkembang, semakin penting audit dilakukan untuk memastikan batas akses tetap sesuai dengan desain awal.

4. Gunakan Rate Limiting & Session Management yang Kuat

Rate limiting membatasi jumlah request dalam waktu tertentu sehingga hacker tidak bisa melakukan brute force pada URL, ID, atau endpoint sensitif. Ini membuat serangan seperti force browsing atau ID enumeration jauh lebih sulit dilakukan. Di sisi lain, session management memastikan token atau session ID aman, tidak bisa ditebak, memiliki masa berlaku, dan tidak dapat digunakan ulang setelah logout.

Jika dua mekanisme ini berjalan bersama, upaya eksploitasi terhadap endpoint sensitif dapat diblokir sejak awal, sekaligus menjaga performa dan keamanan aplikasi di level akses.

Perbandingan Model Access Control

ModelCara KerjaKelebihanKekuranganCocok Untuk
RBAC (Role-Based Access Control)Akses diberikan berdasarkan peran/role userMudah dikelola, cocok untuk tim besar, scalableKurang fleksibel jika banyak aturan spesifikAplikasi enterprise, admin-panel, SaaS
ABAC (Attribute-Based Access Control)Akses ditentukan berdasarkan atribut seperti waktu, lokasi, level risikoSangat fleksibel, cocok untuk aturan kompleksImplementasi lebih rumit, perlu logika panjangSistem keuangan, keamanan tinggi
ACL (Access Control List)Setiap object memiliki daftar siapa yang boleh mengaksesDetail, kontrol granular per objectSulit dikelola jika skala besarSistem file, server internal

Kesimpulan

Pada pembahsan kita dapat kita simpulkan bahwa Broken Access Control adalah salah satu celah keamanan yang paling berbahaya dan paling sering terjadi pada aplikasi modern. Meski terlihat sederhana, kesalahan kecil dalam validasi akses dapat menyebabkan kebocoran data, manipulasi informasi, hingga pengambilalihan akun. Celah ini tidak selalu muncul karena serangan canggih, tetapi justru karena kelalaian developer ketika tidak menerapkan otorisasi dengan benar.

Untuk mencegahnya, kamu perlu menerapkan kontrol akses yang kuat di backend, bukan hanya di UI. Gunakan RBAC atau ABAC sesuai kebutuhan aplikasi, lakukan validasi ownership pada setiap request, dan pastikan endpoint sensitif dilindungi dengan middleware yang tepat. Selain itu, jangan lupa untuk menerapkan rate limiting, session management, dan security logging agar setiap aktivitas mencurigakan dapat terdeteksi lebih cepat. Dengan pendekatan yang konsisten dan fokus pada keamanan sejak tahap awal pengembangan, risiko Broken Access Control dapat diminimalkan secara signifikan.

Artikel ini merupakan bagian dari seri artikel belajar Cyber Security dan jika ada ide topik yang mau kami bahas silahkan komen di bawah ya..

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Subscribe to our Newsletter

Subscribe to our email newsletter to get the latest posts delivered right to your email.
Pure inspiration, zero spam ✨